Kamis, 27 Agustus 2009

sejarah sumur watu - sidadadi - haurgeulis

(Sidadadi haurgeulis indramayu)
Versi aziz rahayu….
Sumur watu,,,,iya sumur watu adalah daerah di dalam kota indramayu yang di apit oleh daerah pesawahan yang sangat luas.atau lebih jelasnya berada di desa sidadadi kecamatan haurgeulis indramayu bagian barat atau dekat dengan perbatasan antara indramayu dan subang.sumur watu terdiri dari dua RT (rukun tetangga)di sebelah barat sumur watu yaitu sidadadi,sebelah timur karang mulek,dan disebelah utara sengondongko dan sebelah selatannya adalah cipedang bunder.sebelunya perkenalkan namaku aaaaaaaa.
Sumur watu adalah suatau daerah dimana hampir seluruh peenduduknya berprofesi sebagai petani,hal ini bias dilihat dari banyaknya sawah yang berada di desa mereka.dan daerah ini juga turut membantu mensuplai beras ke kota kota besar di wilayah Indonesia.
Di balik nama sumur watu banyak menyiman misteri sejarah di antaranya adalah di temukannya peninggalan berupa sumur yang terbuat dari batu yang hinnga saat ini di keramatkan oleh masyarakat sekitar,bahkan ada yang berkeyakinan bahwa kalau mandi kembang di sumur tersebut pada malam jum’at kliwon akan cepat mendapatkan jodoh atau mengeratkan hubungan keluarga yang sudah retak,bahkan melariskan usaha.
Alkisah…..
Pada zaman dahulu kala ketika Indonesia masih di jajah oleh belanda,kehidupan masyarakat Indonesia dalam kesengsaraan yang amat menyedihkan,mereka hiddup tertindas banyak orang yang tak berdosa yang tews akibat kebiadabad penjajah.harta benda mereka diramapas anak gadis mereka di perkosa,sungguh tak kuat aku mendengar cerita orang orang yang menjadi saksi hidup kebiadaban penjajah itu….tapi bukannya tanpa kendala penjajah itu menindas rakyat kecil,because banyak perlawanan dari rakyat di mana mana,walaupun kekuatan mereka tidak seimbang.bayangkan saja meriam melawan bamboo runcing,secara logika ngga akan menang.tapi rekyat Indonesia tidak kenal kata menyerah dan putus asa…karena mereka berpedoman LIVE HONORABLY OR SHAHEED ON HIS PATH / ISYKARIMAN AU MUT SYAHIIDAN atau dalam bahasa jawanya urip mulia atawa mati syahid.karena kebayakan pejuang adalah orang islam,mereka yakin bahwa allah akan menolong mereka(naashir)
Para lelakinya berjuang wanita pun tak kalah andil dalam urusan ini,mereka merawat orang yang terluka dan menyediakan makanan bagi para pejuang.Di samping melawan perang para penjajah mereka juga tak lupa menjalankan kewajiban mereka sebagai seorang muslim yakni sholat lima waktu (subuh,dzuhur,ashar,maghrib,dan isya).
Singkat cerita (wis ngantuk reange)
Tepatnya di daerah jawa bagian pesisir utara yakni daerah indramayu(sekarang)atau tepatnya di sumur watu,terjadi peperangan sengit di perbatasan sumur wanguk dan sumur watu,krn sebagian wilayah itu sudah dikuasai oleh pihak penjajah.tiap hari jumlah korban makin berjatuhan baik dari pihak penjajah maupun pihak pejuang,suasanapun makin mencekamtiap malam malam masyarakat di ungsikan di hutan(sekarang hutan bantar waru gantar)..
Ahirnya
Pihak pejuang mendapatkan bantuan relawan yakni para kyai dan santri dari Cirebon.sehingga kekuatan para pejuang makin hari makin kuat melawan penjajah.para kyai selalu mengingatkan kepada para pejuang bahwa dengan berjuang saja tidak cukup,kita harus meminta doa kepada allah SWT jadi perjuangan harus di iringi dengan doa atau kata rhoma irama dalam syair lagunya ialah PERJUANGAN DAN DOA.
para kyai menyarankan warga dan para pejuang agar membuat siasat untuk bedeng pertahanan di antaranya membuat jebakan jebakan dan membuat galian galian untuk persembunyian para pejuang dalam menghadapi para penjajah

sejarah sumur watu - sidadadi - haurgeulis

(Sidadadi haurgeulis indramayu)
Versi aziz rahayu….
Sumur watu,,,,iya sumur watu adalah daerah di dalam kota indramayu yang di apit oleh daerah pesawahan yang sangat luas.atau lebih jelasnya berada di desa sidadadi kecamatan haurgeulis indramayu bagian barat atau dekat dengan perbatasan antara indramayu dan subang.sumur watu terdiri dari dua RT (rukun tetangga)di sebelah barat sumur watu yaitu sidadadi,sebelah timur karang mulek,dan disebelah utara sengondongko dan sebelah selatannya adalah cipedang bunder.sebelunya perkenalkan namaku aaaaaaaa.
Sumur watu adalah suatau daerah dimana hampir seluruh peenduduknya berprofesi sebagai petani,hal ini bias dilihat dari banyaknya sawah yang berada di desa mereka.dan daerah ini juga turut membantu mensuplai beras ke kota kota besar di wilayah Indonesia.
Di balik nama sumur watu banyak menyiman misteri sejarah di antaranya adalah di temukannya peninggalan berupa sumur yang terbuat dari batu yang hinnga saat ini di keramatkan oleh masyarakat sekitar,bahkan ada yang berkeyakinan bahwa kalau mandi kembang di sumur tersebut pada malam jum’at kliwon akan cepat mendapatkan jodoh atau mengeratkan hubungan keluarga yang sudah retak,bahkan melariskan usaha.
Alkisah…..
Pada zaman dahulu kala ketika Indonesia masih di jajah oleh belanda,kehidupan masyarakat Indonesia dalam kesengsaraan yang amat menyedihkan,mereka hiddup tertindas banyak orang yang tak berdosa yang tews akibat kebiadabad penjajah.harta benda mereka diramapas anak gadis mereka di perkosa,sungguh tak kuat aku mendengar cerita orang orang yang menjadi saksi hidup kebiadaban penjajah itu….tapi bukannya tanpa kendala penjajah itu menindas rakyat kecil,because banyak perlawanan dari rakyat di mana mana,walaupun kekuatan mereka tidak seimbang.bayangkan saja meriam melawan bamboo runcing,secara logika ngga akan menang.tapi rekyat Indonesia tidak kenal kata menyerah dan putus asa…karena mereka berpedoman LIVE HONORABLY OR SHAHEED ON HIS PATH / ISYKARIMAN AU MUT SYAHIIDAN atau dalam bahasa jawanya urip mulia atawa mati syahid.karena kebayakan pejuang adalah orang islam,mereka yakin bahwa allah akan menolong mereka(naashir)
Para lelakinya berjuang wanita pun tak kalah andil dalam urusan ini,mereka merawat orang yang terluka dan menyediakan makanan bagi para pejuang.Di samping melawan perang para penjajah mereka juga tak lupa menjalankan kewajiban mereka sebagai seorang muslim yakni sholat lima waktu (subuh,dzuhur,ashar,maghrib,dan isya).
Singkat cerita (wis ngantuk reange)
Tepatnya di daerah jawa bagian pesisir utara yakni daerah indramayu(sekarang)atau tepatnya di sumur watu,terjadi peperangan sengit di perbatasan sumur wanguk dan sumur watu,krn sebagian wilayah itu sudah dikuasai oleh pihak penjajah.tiap hari jumlah korban makin berjatuhan baik dari pihak penjajah maupun pihak pejuang,suasanapun makin mencekamtiap malam malam masyarakat di ungsikan di hutan(sekarang hutan bantar waru gantar)..
Ahirnya
Pihak pejuang mendapatkan bantuan relawan yakni para kyai dan santri dari Cirebon.sehingga kekuatan para pejuang makin hari makin kuat melawan penjajah.para kyai selalu mengingatkan kepada para pejuang bahwa dengan berjuang saja tidak cukup,kita harus meminta doa kepada allah SWT jadi perjuangan harus di iringi dengan doa atau kata rhoma irama dalam syair lagunya ialah PERJUANGAN DAN DOA.
para kyai menyarankan warga dan para pejuang agar membuat siasat untuk bedeng pertahanan di antaranya membuat jebakan jebakan dan membuat galian galian untuk persembunyian para pejuang dalam menghadapi para penjajah

Rabu, 26 Agustus 2009

HAURGEULIS

Haurgeulis adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Indramayu, Provinsi Jawa Barat, Indonesia.

Kecamatan ini berada di ujung barat wilayah kabupaten Indramayu, berbatasan langsung dengan kabupaten kabupaten Subang, dan juga dilalui jalur kereta api. Haurgeulis juga terkenal sebagai kota akses utama via darat menuju Pondok Pesantren Ma'had Al-Zaytun, yang merupakan ponpes terbesar di Asia Tenggara.

Saat ini, Haurgeulis terbagi menjadi 10 desa. Sebelumnya, kecamatan ini memiliki 16 desa. Namun pada tahun 2002, 6 desa (Baleraja, Bantarwaru, Gantar, Mekarjaya, Sanca dan Situraja) memisahkan diri dan dimekarkan menjadi kecamatan Gantar (berdasarkan ketentuan Perda Kabupaten Indramayu No. 19 tahun 2002 tentang Penataan dan Pembentukan Lembaga Perangkat Daerah Kabupaten Indramayu). Desa-desa yang ada di kecamatan Haurgeulis yaitu Cipancuh, Haurgeulis, Haurkolot, Karangtumaritis, Kertanegara, Mekarjati, Sidadadi, Sukajati, Sumbermulya dan Wanakaya.


Daftar isi

* 1 Sejarah
* 2 Letak Geografis
* 3 Demografi
* 4 Galeria
* 5 Kelurahan/desa

Sejarah

Nama Haurgeulis berasal dari gabungan 2 kata dalam bahasa Sunda, yaitu Haur dan Geulis. Haur berarti bambu, sedangkan geulis berarti cantik. Jadi, nama Haurgeulis mempunyai arti Bambu Cantik atau Pring Ayu dalam bahasa Jawa. Hali ini konon dikarenakan wilayah kecamatan ini pada masa lampau banyak ditumbuhi oleh tumbuhan-tumbuhan bambu yang mempunyai bentuk unik dan mempunyai manfaat yang besar bagi masyarakat sekitar.


Pada masa perawalan abad ke-16, wilayah Haurgeulis (termasuk Gantar, Anjatan, Sukra, serta sebagian Kandanghaur dan Terisi) termasuk dalam wilayah kekuasaan Kerajaan Sumedang Larang. Sempat terjadi polemik antara penguasa Indramayu dengan penguasa Sumedang mengenai status wilayah ini.

Konon pada suatu ketika, penguasa Indramayu (lewat Nyi Endang Dharma) menyiapkan strategi khusus untuk bisa mendapatkan hak kekuasaan wilayah tersebut dari Kerajaan Sumedang. Nyi Endang Dharma (yang konon awalnya adalah seorang lelaki sakti) mengubah wujud aslinya menjadi seorang wanita yang cantik jelita. Kecantikannya membuat Raja Sumedang saat itu, Prabu Geusan Ulu Adji Putih, jatuh cinta dan berniat menikahi Nyi Endang Dharma. Prabu Geusan tak mengetahui bahwa wanita cantik tersebut sebenarnya adalah musuh besarnya. Nyi Endang Dharma pun menerima tawaran dari Sang Prabu, namun dengan ketentuan Sang Prabu mau memberikan untuknya wilayah yang kelak akan dijadikan tempat tinggalnya. Tanpa berpikir panjang, Prabu Geusan yang sudah terjebak oleh kelicikan Nyi Endang Dharma, langsung mengabulkan permintaannya demi cintanya.

Namun setelah Prabu Geusan mengikrarkan janjinya, tiba-tiba ia pun sadar bahwa Nyi Endang yang dicintainya adalah musuh besarnya dari pesisir utara. Semua wilayah yang ia berikan tadipun lenyap dan jatuh ke tangan Indramayu. Wilayah itulah yang kini menjadi daerah Haurgeulis (termasuk Gantar, Anjatan, Sukra, serta sebagian Kandanghaur dan Terisi).

Letak Geografis

Haurgeulis merupakan kecamatan yang berada di ujung barat kabupaten Indramayu. Kecamatan ini tidak berada pada Jalur Pantura. Adapun batas-batas wilayah Haurgeulis adalah :

* Sebelah Utara : Kecamatan Anjatan
* Sebelah Timur : Kecamatan Kroya
* Sebelah Selatan : Kecamatan Gantar
* Sebelah Barat : Kecamatan Compreng dan Cipunagara (Kabupaten Subang)

Wilayah kecamatan Haurgeulis sebagian besar adalah area persawahan. Area persawahan terluas terletak di desa Sumbermulya, Cipancuh dan Kertanegara, yang mana sabelah barat dari ketiga desa tersebut adalah hamparan sawah yang membentang hingga ke wilayah perbatasan kabupaten Subang.


Demografi
Salah satu jalan utama yang tampak lengang di Haurgaulis

Kecamatan Haurgeulis merupakan salah satu kecamatan yang memiliki karakteristik / kultur masyarakat yang heterogen. Letak geografisnya yang strategis membawa pengaruh pada pola hidup keseharian masyarakatnya. Suku Jawa masih merupakan golongan yang dominan di Haurgeulis, diikuti Sunda, Cina, Minang dan Arab. Sebagian besar dari orang-orang Cina, Arab dan Minang adalah orang-orang pendatang dan perantauan yang membuka usaha di Haurgeulis.

Bahasa yang digunakan di Haurgeulis sebagian besar adalah bahasa Jawa. Namun, tak semua bahasa Jawa yang ada di Haurgeulis memiliki dialek yang sama. Ada 3 dialek Jawa yang digunakan di Haurgeulis, yakni dialek Dermayon, dialek Cirebon dan dialek Tegal (mirip dialek Banyumasan). Masyarakat di desa Kertanegara, Karangtumaritis dan Wanakaya sebagian besar menggunakan dialek Cirebonan. Dialek Tegalan lazim dipakai oleh masyarakat di desa Sidadadi, Sumbermulya, blok Cipedang Bunder (desa Mekarjati), Lebak (desa Sukajati) dan sebagian wilayah timur desa Haurgeulis. Sementara dialek Dermayon digunakan oleh penduduk di desa Cipancuh, Mekarjati, Haurgeulis, Sukajati dan sebagian Sumbermulya.

Bahasa Sunda sendiri juga termasuk bahasa yang masih sering digunakan oleh masyarakat. Hal ini normal karena meskipun termasuk dalam wilayah Indramayu (yang notabene adalah Jawa), Haurgeulis pada awalnya adalah wilayah kekuasaan dari Sumedang. Bahasa Sunda yang digunakan di Haurgeulis umumnya adalah bahasa Sunda kasar. Wilayah yang penduduknya menggunakan bahasa Sunda antara lain desa Haurkolot, Cipancuh (blok Sumur Bandung / Karanganyar), Mekarjati (blok Babakan Jati II, III), Kertanegara (blok 18, 19, 22), Wanakaya (blok Maja) dan Karangtumaritis (blok Karang Sambung).

Sementara sebagian kecil lagi dari masyarakat adalah menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa ibu yang digunakan. Wilayah yang menggunakan bahasa Indonesia sehari-hari adalah daerah sekitar desa Haurgeulis (blok Pasar dan Babakan Negla) dan Sukajati (blok Masjid Al-Hanan, Warung Jambu dan sebagian Manggungan)

Mata pencaharian masyarakat Haurgeulis sebagian besar adalah berniaga (berdagang) dan bertani, diikuti sebagai karyawan pertokoan dan instansi serta wiraswasta. Intensitas perdagangan di Haurgeulis meruapakan salah satu yang terbesar di Kabupaten Indramayu, bersama Jatibarang.



Kelurahan/desa

1. Cipancuh
2. Haurgeulis
3. Haurkolot
4. Karangtumaritis
5. Kertanegara
6. Mekarjati
7. Sidadadi
8. Sukajati
9. Sumbermulya
10. Wanakaya

Kabupaten Indramayu, Jawa Barat
Kecamatan

Anjatan • Arahan • Balongan • Bangodua • Bongas • Cantigi • Cikedung • Gabuswetan • Gantar • Haurgeulis • Indramayu • Jatibarang • Juntinyuat • Kandanghaur • Karangampel • Kedokan Bunder • Kertasemaya • Krangkeng • Kroya • Lelea • Lohbener • Losarang • Sindang • Sliyeg • Sukagumiwang • Sukra • Trisi • Widasari